Pernahkah Anda meninggalkan jendela rumah terbuka saat AC menyala? Tentu hal tersebut akan membuat AC bekerja lebih keras sehingga konsumsi listrik meningkat.
Hal yang sama juga terjadi pada fume hood di laboratorium. Banyak orang menganggap sash (jendela geser) pada fume hood hanya berfungsi sebagai pelindung saat bekerja. Padahal, posisi sash juga sangat menentukan besarnya energi yang digunakan oleh laboratorium. Sash adalah panel kaca yang dapat dinaikkan dan diturunkan pada bagian depan fume hood. Selain melindungi analis dari percikan maupun uap bahan kimia berbahaya, sash juga mengatur jumlah udara yang masuk ke dalam fume hood. Semakin tinggi sash dibuka, semakin banyak udara yang harus dihisap oleh sistem ventilasi.
Laboratorium merupakan salah satu fasilitas dengan konsumsi energi tertinggi di sebuah gedung. Salah satu penyebabnya adalah sistem ventilasi yang harus bekerja terus-menerus untuk menjaga keselamatan personel. Ketika sash dibiarkan terbuka meskipun tidak sedang digunakan, sistem ventilasi tetap menghisap udara dalam jumlah besar. Udara tersebut kemudian harus digantikan dengan udara baru yang perlu didinginkan atau dipanaskan oleh sistem tata udara (HVAC). Akibatnya, konsumsi listrik meningkat, biaya operasional laboratorium menjadi lebih tinggi, dan emisi karbon yang dihasilkan juga bertambah. Dengan kata lain, sash yang terbuka berarti energi terus terbuang, meskipun tidak ada aktivitas di dalam fume hood.
Menutup sash setelah selesai bekerja bukan hanya menghemat energi, tetapi juga meningkatkan keselamatan. Sash yang berada pada posisi rendah berfungsi sebagai penghalang tambahan apabila terjadi percikan bahan kimia, tumpahan, atau reaksi yang tidak diharapkan. Oleh karena itu, banyak standar keselamatan laboratorium menganjurkan agar sash ditutup ketika fume hood tidak digunakan.
Di berbagai laboratorium yang menerapkan konsep Green Laboratory, kampanye "Close the Sash" menjadi salah satu aksi yang paling mudah dilakukan karena tidak memerlukan investasi tambahan. Cukup dengan mengubah kebiasaan sehari-hari, laboratorium dapat mengurangi penggunaan energi secara signifikan. Bayangkan jika setiap analis menutup sash setiap selesai bekerja. Dalam satu laboratorium mungkin hanya menghemat sedikit energi. Namun jika dilakukan secara konsisten oleh seluruh laboratorium di Indonesia, penghematan energi dan penurunan emisi karbon akan menjadi sangat berarti.
Mewujudkan Green Laboratory tidak selalu harus dimulai dengan pengadaan peralatan baru atau teknologi yang mahal. Justru perubahan sederhana dalam perilaku sehari-hari sering kali memberikan dampak yang paling nyata. Mulai hari ini, sebelum meninggalkan fume hood, biasakan untuk bertanya pada diri sendiri: "Apakah sash sudah saya tutup?" Karena laboratorium yang lebih hijau dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Penulis: Tim Green Lab PPPOMN