Keandalan hasil pengujian laboratorium menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung pengawasan keamanan pangan berbasis sains. Sejalan dengan upaya tersebut, Laboratorium Rujukan Pengujian Pangan Indonesia (LRPPI) Cemaran Logam dalam Pangan Olahan, Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) BPOM, terus memperkuat kompetensi tenaga laboratorium dan harmonisasi penerapan metode pengujian pangan di Indonesia.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan Bimbingan Teknis Penetapan Kadar Metil Merkuri dalam Ikan Olahan menggunakan metode Ion Chromatography–Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (IC-ICP-MS). Kegiatan yang berlangsung pada 8–12 Juni 2026 tersebut diikuti oleh 12 peserta dari laboratorium pemerintah, unit teknis BPOM, direktorat terkait, dan laboratorium swasta.
Peserta berasal dari Balai Besar POM di Medan, Pekanbaru, Semarang, Surabaya, Makassar, Manado, dan Samarinda; Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan; Direktorat Standardisasi Pangan Olahan; Direktorat Pengawasan Pangan Olahan; Laboratorium Qualis Indonesia; serta Laboratorium Saraswanti Indo Genetech. Keterlibatan berbagai institusi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun keseragaman kompetensi dan penerapan metode pengujian yang andal.
Memperkuat Pemahaman terhadap Risiko Metil Merkuri
Sesi pembuka menghadirkan Andreas, S.Si., M.Si. melalui kuliah umum daring bertajuk Quantification of Methylmercury. Materi tersebut membahas pentingnya pengendalian pencemaran merkuri yang telah menjadi perhatian global, terutama sejak diadopsinya Konvensi Minamata pada 2013 di bawah naungan United Nations Environment Programme.
Metil merkuri merupakan bentuk organik merkuri dengan tingkat toksisitas lebih tinggi dibandingkan merkuri anorganik. Senyawa ini dapat mengalami bioakumulasi dalam organisme dan biomagnifikasi sepanjang rantai makanan, khususnya pada ikan dan produk hasil laut.
Di lingkungan perairan, metil merkuri dapat terbentuk melalui aktivitas mikroorganisme yang mengubah merkuri anorganik menjadi bentuk organik yang lebih berbahaya. Paparan metil merkuri dalam jumlah tertentu berisiko menimbulkan gangguan pada sistem saraf, memengaruhi perkembangan kognitif janin dan anak, serta meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular pada orang dewasa.
Pembelajaran Teori dan Praktik Laboratorium
Selama lima hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembekalan teori dan praktik mengenai prinsip analisis metil merkuri, preparasi sampel, pengoperasian instrumen IC-ICP-MS, serta pengolahan dan interpretasi data hasil pengujian.
Kegiatan praktik dilaksanakan secara intensif agar peserta dapat memahami setiap tahapan pengujian secara langsung, mulai dari penyiapan sampel hingga evaluasi hasil analisis sesuai prosedur yang berlaku. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan teknis sekaligus kemampuan peserta dalam mengidentifikasi dan mengendalikan faktor yang memengaruhi mutu hasil pengujian.
Application Specialist PT Wiralab turut menyampaikan materi bertajuk Trace Elemental Species Separation and Detection with Thermo Scientific IC-ICP-MS. Materi mencakup prinsip pemisahan spesiasi unsur menggunakan kromatografi ion yang dipadukan dengan deteksi ICP-MS, konfigurasi instrumen, optimasi kondisi analisis, serta aspek teknis untuk memperoleh hasil pengujian yang akurat dan andal.
Mendukung Pengawasan Pangan Berbasis Risiko
Penguasaan metode IC-ICP-MS memiliki peran strategis dalam mendukung pengawasan keamanan pangan. Metode ini memungkinkan laboratorium memisahkan dan mengkuantifikasi berbagai spesiasi merkuri secara lebih selektif, sehingga informasi yang diperoleh tidak hanya terbatas pada kadar merkuri total.
Kemampuan tersebut penting karena setiap bentuk kimia merkuri memiliki karakteristik dan tingkat toksisitas yang berbeda. Data hasil pengujian yang lebih spesifik dan representatif dapat menjadi dasar dalam pelaksanaan pengawasan pangan berbasis risiko, evaluasi keamanan produk, serta pengembangan metode pengujian yang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Melalui bimbingan teknis ini, LRPPI mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia laboratorium serta harmonisasi penerapan metode pengujian metil merkuri pada laboratorium pemerintah dan swasta. Keselarasan kompetensi, prosedur, dan mutu hasil pengujian diperlukan untuk menghasilkan data laboratorium yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Sebagai Laboratorium Rujukan Pengujian Pangan Indonesia untuk Cemaran Logam dalam Pangan Olahan, PPPOMN BPOM terus memperkuat jejaring laboratorium melalui bimbingan teknis, uji profisiensi, serta pengembangan dan standardisasi metode pengujian. Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan kapasitas laboratorium pengujian pangan sekaligus mendukung sistem pengawasan obat dan makanan yang efektif, modern, dan terpercaya.
-Briliana dan Cita-