Seri Artikel Edukasi Laboratorium Pangan 10: Pengujian Bahan Tambahan Pangan pada Pangan Olahan: Mengapa Penting?

10-06-2026 Umum Dilihat 435 kali

Pangan olahan telah menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari masyarakat. Mulai dari minuman kemasan, saus, mi instan, roti, biskuit, hingga aneka makanan ringan, banyak produk pangan memanfaatkan bahan tambahan pangan (BTP) untuk membantu menjaga mutu, kestabilan, penampilan, cita rasa, dan daya simpan. Penggunaan bahan tambahan pangan pada dasarnya diperbolehkan sepanjang digunakan sesuai jenis, fungsi, dan batas yang ditetapkan. Karena itu, pengujian laboratorium terhadap bahan tambahan pangan menjadi bagian penting dalam pengawasan pangan olahan.

Secara sederhana, bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk tujuan teknologi tertentu, misalnya sebagai pengawet, pewarna, pemanis, pengemulsi, pengental, pengatur keasaman, atau penyedap. Dalam praktiknya, penggunaan BTP perlu dikendalikan agar tidak berlebihan, tidak disalahgunakan, dan tidak menimbulkan risiko bagi konsumen. Di sinilah laboratorium berperan penting, yaitu memastikan bahwa produk pangan olahan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Pengujian BTP penting karena tidak semua aspek dapat dinilai hanya dari label atau penampilan produk. Warna yang terlalu mencolok, rasa yang sangat manis, atau daya simpan yang panjang memang dapat menimbulkan pertanyaan, tetapi kepastiannya tetap harus dibuktikan secara ilmiah melalui analisis laboratorium. Dengan metode yang tepat, laboratorium dapat mengidentifikasi jenis bahan tambahan pangan yang digunakan dan mengukur kadarnya secara akurat.

Beberapa kelompok BTP yang sering menjadi perhatian dalam pengujian pangan olahan antara lain pewarna, pengawet, pemanis, antioksidan dan penguat rasa, dll. Pada minuman berwarna, sirup, atau makanan ringan, laboratorium dapat memeriksa jenis dan kadar pewarna yang digunakan. Pada saus, minuman, atau produk olahan tertentu, pengujian dapat dilakukan untuk mengetahui kadar pengawet seperti benzoat atau sorbat. Pada produk rendah gula atau minuman tertentu, laboratorium dapat menganalisis pemanis. Sementara itu, pada berbagai pangan olahan gurih, pengujian juga dapat dilakukan terhadap komponen penunjang cita rasa sesuai kebutuhan pengawasan.

Selain memastikan penggunaan BTP yang diizinkan sesuai ketentuan, laboratorium juga berperan untuk mendeteksi kemungkinan penggunaan bahan yang tidak semestinya digunakan dalam pangan. Dalam konteks pengawasan pangan olahan, hal ini sangat penting karena masyarakat perlu mendapat perlindungan dari produk yang tidak memenuhi persyaratan keamanan.

Proses pengujian bahan tambahan pangan di laboratorium dilakukan secara sistematis. Tahap awal dimulai dari penerimaan dan pencatatan sampel pangan olahan. Sampel kemudian dipreparasi sesuai karakteristik produk dan parameter yang akan diuji. Ada sampel yang perlu dilarutkan, diekstraksi, disaring, atau diencerkan terlebih dahulu. Setelah itu, analisis dilakukan menggunakan metode dan instrumen yang sesuai.

Dalam pengujian BTP, laboratorium dapat memanfaatkan berbagai teknologi, mulai dari metode kimia klasik hingga instrumen canggih seperti HPLC, GC, atau LC-MS/MS, tergantung jenis senyawa yang dianalisis. Teknologi ini memungkinkan analis mengenali senyawa tertentu secara lebih spesifik dan mengukur kadarnya dengan ketelitian tinggi. Hasil pengujian kemudian diperiksa, diverifikasi, dan dibandingkan dengan ketentuan yang berlaku sebelum dituangkan ke dalam laporan hasil uji.

Ilustrasi sederhana proses laboratorium untuk pengujian BTP dapat digambarkan sebagai berikut: sampel pangan olahan diterima → sampel dipreparasi → analisis dilakukan untuk mendeteksi dan mengukur BTP → data diperiksa → hasil dibandingkan dengan ketentuan → laporan diterbitkan. Alur ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap BTP dilakukan dengan pendekatan ilmiah, bukan sekadar dugaan.

Contoh pengujiannya dapat ditemukan pada sirup atau minuman berperisa yang diuji kandungan pewarna dan pemanisnya, saus yang dianalisis kadar pengawetnya, jeli dan makanan ringan yang diperiksa komponen tambahan tertentu, serta produk bakery atau makanan olahan lain yang membutuhkan evaluasi komposisi bahan tambahan sesuai karakteristik produknya. Melalui pengujian tersebut, laboratorium membantu memastikan bahwa pangan olahan yang beredar tetap aman dan memenuhi persyaratan.

Bagi pelaku usaha, pengujian bahan tambahan pangan juga penting sebagai bagian dari pengendalian mutu. Hasil uji dapat membantu memastikan konsistensi formulasi produk, kesesuaian label, dan kepatuhan terhadap ketentuan. Bagi masyarakat, pengujian ini memberikan perlindungan dan keyakinan bahwa pangan olahan yang dikonsumsi telah diawasi secara ilmiah.

Dalam lingkup pengawasan pangan olahan, pengujian bahan tambahan pangan merupakan salah satu bentuk perlindungan konsumen yang sangat relevan. Melalui laboratorium, penggunaan bahan tambahan pangan dapat dipantau secara objektif, akurat, dan terukur. Dengan demikian, keamanan pangan olahan tidak hanya dijaga dari cemaran atau kerusakan mutu, tetapi juga dari penggunaan bahan tambahan yang tidak sesuai ketentuan.

-CTA-

Sarana