Seri Artikel Edukasi Laboratorium Pangan 12: Mengenal Pengujian Aflatoksin pada Kacang dan Produk Pangan

15-07-2026 PPPOMN Dilihat 209 kali

Kacang tanah, jagung, biji-bijian, dan produk olahannya merupakan bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Namun, bahan pangan tersebut dapat berisiko tercemar oleh senyawa berbahaya bernama aflatoksin apabila penanganan dan penyimpanannya kurang baik. Aflatoksin merupakan racun alami yang dihasilkan oleh kapang tertentu, terutama pada kondisi lembab dan penyimpanan yang tidak sesuai.

Keberadaan aflatoksin sering kali tidak dapat dikenali dari tampilan luar pangan. Kacang atau jagung dapat terlihat biasa saja, tetapi tetap berpotensi mengandung cemaran tersebut. Karena itulah pengujian laboratorium sangat penting untuk memastikan apakah produk aman dikonsumsi dan memenuhi ketentuan keamanan pangan.

Di laboratorium, pengujian aflatoksin biasanya dilakukan dengan teknik pemisahan dan pengukuran menggunakan instrumen seperti Kromatografi Cair Kinerja Tinggi atau KCKT. Dalam istilah internasional, alat ini dikenal sebagai High Performance Liquid Chromatography atau HPLC. Alat ini membantu memisahkan senyawa aflatoksin dari komponen pangan lain, kemudian mengukurnya secara spesifik.

Proses pengujian dimulai dari penerimaan sampel. Sampel kacang, jagung, tepung, atau produk olahan terlebih dahulu dicatat dan diberi kode. Setelah itu, sampel dihaluskan agar homogen. Tahap homogenisasi sangat penting karena aflatoksin dapat tersebar tidak merata dalam bahan pangan.

Setelah sampel siap, laboratorium melakukan ekstraksi menggunakan pelarut tertentu. Tujuannya adalah menarik senyawa aflatoksin dari bahan pangan. Hasil ekstraksi kemudian dapat melalui tahap pembersihan agar gangguan dari komponen lain berkurang. Setelah itu, larutan dianalisis menggunakan KCKT.

Ilustrasi sederhana alurnya adalah: sampel diterima → dihaluskan → diekstraksi → dimurnikan → dianalisis dengan KCKT → hasil dibandingkan dengan ketentuan yang berlaku.

Contoh pangan yang sering menjadi perhatian dalam pengujian aflatoksin adalah kacang tanah, selai kacang, jagung, tepung jagung, bumbu berbasis kacang, dan beberapa jenis rempah. Pengawasan terhadap aflatoksin penting karena senyawa ini berkaitan dengan risiko kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah melebihi batas aman.

Bagi masyarakat, cara sederhana untuk membantu mengurangi risiko adalah memilih produk yang bersih, tidak berjamur, tidak berbau apek, dan disimpan di tempat kering. Namun, penilaian visual saja tidak cukup. Untuk memastikan kadarnya, tetap diperlukan pengujian laboratorium.

Melalui pengujian aflatoksin, laboratorium berperan menjaga keamanan pangan dari cemaran yang tidak terlihat. Hasil uji menjadi dasar penting bagi pengawasan, pembinaan pelaku usaha, serta perlindungan kesehatan masyarakat.

 

-CTA-

Sarana